Kota Balikpapan Kota Paling Layak Huni Versi IAP


Balikpapan mendapat nilai tertinggi berdasarkan survei Ikatan Ahli Perencanaan (IAP), dan se-Indonesia  hanya ada 7 kota yang nyaman dihuni.
Enam kota lainnya yang layak huni – selain Balikpapan sebagai juara, adalah Bandung, Solo, Malang, Jogjakarta, Makassar, dan Palembang.
Survei IAP Indonesia ini dilakukan di 17 kota besar di Indonesia. Yakni Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Jogjakarta, Balikpapan. Selain itu di Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Pontianak, Makassar, Jayapura, Palembang, Medan, dan DKI Jakarta.
Untuk diketahui, IAP mendasarkan penilaian dari tujuh variabel utama, yakni fisik kota, kualitas lingkungan, transportasi, aksesibilitas, fasilitas, utilitas, serta ekonomi-sosial. Berpedoman pada tujuh variabel itu, ditetapkan 25 kriteria penentuan kota layak huni. Antara lain kualitas penataan kota, jumlah ruang terbuka, perlindungan bangunan bersejarah, kualitas kebersihan lingkungan, tingkat pencemaran lingkungan, ketersediaan angkutan umum, kualitas kondisi jalan, dan kualitas fasilitas pejalan kaki.
Kriteria lainnya adalah ketersediaan fasilitas kesehatan, kualitas fasilitas kesehatan, ketersediaan fasilitas pendidikan, kualitas fasilitas pendidikan, ketersediaan fasilitas rekreasi, kualitas fasilitas rekreasi, ketersediaan energi listrik, ketersediaan air bersih, dan kualitas air bersih.
Dan kriteria berikutnya adalah kualitas jaringan telekomunikasi, ketersediaan lapangan pekerjaan, tingkat aksesibilitas tempat kerja, tingkat kriminalitas, interaksi hubungan antarpenduduk, informasi pelayanan publik, dan ketersediaan fasilitas kaum difabel.
Ketua IAP Bernadus Djonoputro mengatakan, selain tujuh kota yang menonjol itu, kota dan kabupaten yang lain nilainya masih di bawah rata-rata nasional. Di Indonesia nilai rata-rata nasional berkisar pada 63,62. “Dari kondisi aktual, Surabaya, Solo, Pekalongan, dan Palembang sebenarnya pantas masuk dalam jajaran teratas kota ternyaman dan layak huni di Indonesia. Menyusul, Jogjakarta, Denpasar, Manado, dan Semarang.

Namun semua daerah juga berbenah, dan kali ini Balikpapan menempati posisi teratas dengan poin 71,12,” ujar Bernardus, di sela-sela forum EAROPH, yang dihadiri tak hanya para wali kota/bupati se-Indonesia, tapi juga perwakilan negara anggota seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, New Zealand, India, Hong Kong, Filipina, Bangladesh, dan Thailand.

Dalam survei IAP itu, ada 1.000 lebih item sampel yang diambil. Dengan margin error dua persen, Bernadus mengatakan patokan yang juga digunakan untuk melihat kenyamanan kota yakni tingkat kebersihan, perputaran ekonomi, ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH), sistem transportasi, infrastruktur dan sistem drainase.
Menurut Bernadus, Balikpapan berada di atas rata-rata nasional untuk aspek tata kota dan pengelolaan lingkungan. Sedangkan kota-kota menengah seperti Solo, Malang dan Samarinda dianggap secara keruangan dan lingkungan sebenarnya terkelola baik, namun masih banyak yang perlu dibenahi. Seperti sistem drainase, transportasi dan infrastruktur.
Dia menjelaskan, pembenahan (terutama di kota sekitar Balikpapan sebagai kota ternyaman) perlu segera dilakukan. Sebab kesenjangan itu akan menambah arus urbanisasi dari desa ke kota atau dari daerah sekitar. Dari data IAP, Indonesia akan memasuki puncak era urbanisasi. Lebih dari 30 kota menengah, laju pertumbuhan penduduknya akan lebih dari satu juta penduduk setiap tahunnya.
“Sehingga berisiko tidak terpenuhinya kebutuhan warga. Seperti pendidikan dan kesehatan,” jelasnya.
Sebagai perbandingan, hasil survei Most Livable City Index 2009 dan 2011, Jogjakarta selalu tampil sebagai jawara kota ternyaman, disusul Denpasar, Makassar, Manado, dan Surabaya. Selama dua kali secara berurutan, indeks dengan persepsi tingkat kenyamanan untuk Jogjakarta mencapai 65,34 dan 66,52. Adapun tingkat persepsi kenyamanan warga paling rendah untuk dua edisi itu, didapati Medan dan Pontianak. Masing-masing 43,65 dan 52,28 pada 2009, serta 46,92 dan 46,67 pada 2011.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak mengatakan, Kementerian PU terus mendorong kota-kota untuk meningkatkan fasilitas publiknya untuk kenyamanan warga. Seperti ketersediaan RTH, air bersih dan adanya perda yang mengatur Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang promasyarakat.
Lebih lanjut, Dardak berharap pertemuan EAROPH ke-24 ini bisa menginspirasi pemimpin daerah. Sebab Kementerian PU mendatangkan beberapa wali kota dari luar negeri yang berhasil membenahi kotanya menjadi layak huni. Sebut saja Wali Kota Bilbao Ibon Aresso (Spanyol), yang berhasil membangun kota Bilbao sebagai kota inklusi.
Source kaltimpost

One thought on “Kota Balikpapan Kota Paling Layak Huni Versi IAP”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s